Ujian Nasional 2017

Ujian Nasional 2017 dan USBN memang sudah kelar. Namun rangkaian dan pelaksanaan UN dan USBN tingkat SMA, MA, dan SMK tersebut penting untuk kita catat dan evaluasi.

Kenapa sih, Ujian Nasional 2017 serta USBN perlu dicatat serta dievaluasi? Setidaknya ada dua alasan, yaitu pertama karena catatan tersebut merupakan bagian dari sejarah pendidikan Indonesia. Kedua, yang lebih penting lagi, supaya bisa belajar dari kesalahan yang terjadi sehingga pelaksanaan UN (serta ujian lain) selanjutnya bisa lebih baik lagi.

Simak catatan rangkaian UN plus USBN 2017 berikut ini.  

* Tanggal 25 November lalu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy menyatakan bahwa UN akan dihapus sementara alias morotarium UN untuk jangka waktu yang tidak ditetapkan.

“Saya sudah dipanggil Pak Presiden.Prinsipnya beliau sudah menyetujui (moratorium), tinggal menunggu Inpres (instruksi presiden),” ujar Pak Muhadjir ketika itu.  

* Alasan rencana penghapusan sementara tersebut adalah saat ini UN dinilai kurang efektif.  Yup, dari tahun ke tahun, hasil UN konsisten menunjukkan hal yang sama: tingkat pendidikan yang nggak merata di Indonesia. Sehingga jika dibuat tes yang sama secara nasional (UN), maka hasilnya akan jomplang. Ada daerah yang nilainya bagus-bagus, ada yang nge-drop. Makanya, Bapak Muhadjir ingin meningkatkan tingkat pendidikan di berbagai daerah, agar mutu pendidikan Indonesia bisa merata. Kalau sudah begitu baru deh, diadakan Ujian Nasional lagi.

* Sebagai ganti UN, Kemendikbud mencanangkan ujian sekolah yang dikoordinasikan di tiap provinsi.

* Walau Pak Muhadjir menyatakan UN akan dihapus, namun ternyata rencana tersebut ditolak Jokowi. Setelah Presiden rapat dengan wapres dan beberapa menteri terkait, disimpulkan bahwa Ujian Nasional yang sifatnya seragam tetap diperlukan untuk mengukur kemampuan siswa.

* Tanggal 22 Desember lalu, diadakan rapat koordinasi di kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Hasilnya, UN tetap diadakan dan hasilnya tetap nggak menentukan kelulusan. Kemudian, ada Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) yang wajib dijalani.

* Bedanya, UN tidak menentukan kelulusan, sementara USBN menjadi salah satu penilaian kelulusan. USBN berlangsung 20-23 Maret,

* Hal lain yang berbeda dari UN tahun ini adalah PENGURANGAN mata pelajaran yang diujikan. Selain Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika, siswa cukup memilih satu pelajaran sesuai penjurusannya. Untuk jurusan IPA, bisa memilih satu mata pelajaran di antara Kimia, Fisika, atau Biologi. Jurusan IPS memilih satu pelajaran di antara Ekonomi, Geografi, atau Sosiologi, dan jurusan Bahasa memilih satu pelajaran antara Sastra Indonesia,  Antropologi, atau Bahasa Asing.

* Pengurangan mata pelajaran yang diujikan, dari 6 menjadi 4 mapel, membedakan UN tahun ini dengan tahun sebelumnya.

Pihak Kemdikbud menjelaskan bahwa pilihan pelajarannya bebas dan nggak mesti nyambung dengan jurusan kuliah. Trus, dianjurkan memilih pelajaran yang paling dikuasai supaya hasil UN-nya baik.

Seara pribadi, saya agak ragu dengan pengurangan pelajaran yang diujikan. Kalau memang pilihan mapel nggak berngaruh dengan kuliah, sedangkan bertujuan mengukur kemampuan siswa serta tingkat pendidikan di Indonesia, maka sebaiknya mapel yang diujikan sama. JadimMenurut saya, mata pelajaran UN nggak perlu dikurangi. *BOOOOOOOOO! disorakin se-RT*

* Tahun ini, pelaksanaan UN berbasis komputer juga ditingkatkan. Karena nggak semua sekolah punya fasilitas memadai, maka ujiannya pun bisa sharing lokasi dengan sekolah lain, termasuk SMP. Karena itu pula ujian SMA/MA dan SMK nggak berbarengan.

* Walau secara umum lancar, namun ada beberapa masalah pada penyelenggaraan UN SMK pada 3-6 April dan UN SMA/MA 10-14 April lalu, terutama dalam UNBK.  Di Yogyakarta,  sekitar 800 siswa SMK gagal mengikuti UN hari terakhir lantaran soal UN-nya nggak muncul. Alhasil, mereka harus ikutan ujian susulan.  Masalah teknis juga muncul di beberapa daerah lainnya.

* Kendala lainnya adalah mata pelajaran yang sudah dipilih beda dengan soal yang diberikan panitia. Alhasil, mereka mesti ikutan ujian susulan juga.

* Fasilitas komputer yang belum memadai untuk UNBK, membuat sekolah mencari pinjaman laptop ke orang tua murid dan siswa. Tapi sebelumnya tentu laptop tersebut diperiksa supaya nggak terjadi kecurangan. Diharapkan tahun depan nggak ada lagi tuh, peminjaman ke siswa/walimurid.

* Yup, panitia dan sekolah memang mesti “susah payah” dalam penyelenggaraan UNBK. Seperti memenuhi fasilitas, meminimalisir error, ujian di sekolah lain dan lain sebagainya. Apalagi di daerah yang listrik dan koneksi internetnya sering mengalami gangguan.

* Trus, kalau Indonesia masih belum sepenuhnya mampu (bahkan, sebagian sekolah masih ujian dengan kertas), ngapain sih, mesti ngoyo UNBK?

Sebab, UNBK itu memang harus diusahakan dan dilakukan. Kalau ada cara ujian yang lebih efektif dan praktis, dengan memanfaatkan teknologi, ya, kenapa nggak? Kalau menunggu sampai segala sesuatunya lengkap dan sempurna, akan sulit untuk maju.

Di sisi lain, segala kendala dan kekurangan memang harus jadi perhatian pemerintah, khususnya penyelenggara UN, supaya bisa makin baik ke depannya.

* Youthmanual sempat nanya-nanya ke Najib Siswa SMAI Al-Azhar Surakarta, yang merasakan ujian dengan kertas di USBN dan ujian berbasis komputer di UN.

“Kalau ujian dengan dengan kertas, enaknya mata jadi nggak pusing. Kalau lihat komputer terus, ‘kan pusing. Sementara ujian dengan komputer itu nggak ribet. Nggak perlu ngebunderin untuk mejawab soal dan mengisi data,” komentar Najib. Sekolahnya sendiri mengadakan UN sebanyak 3 sesi supaya semua bisa pakai komputer (UNBK).

* Kalau menurut Pak Daryanto dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, pengaduan di Ujian Nasional 2017 menurun. Mudah-mudahan ini indikasi kalau pelaksanaan UN tahun ini lebih baik dibanding tahun-tahun lalu, dan bukan gara-gara pada malas melapor, ya.